Hari Ke 3

Hari Ke 3
 
Tahun 2017, tepatnya saat perayaan hari raya idul adha. Untuk pertama kalinya, aku merayakan hari agung itu jauh dari rumah. Aku tak pulang karena keesokan harinya ada jadwal kuliah pagi.

Aku di kos-an sendiri, menangis. Berusaha berbesar hati, menyemangati diri sendiri. Namun pertahananku runtuh seberes menelepon ke rumah.

Awalnya aku hanya berbincang ringan dengan saudara-saudaraku. Perihal jadwal mereka untuk menziarahi makam Ibu. Ah, hal itu pun sebenarnya membuatku sedih. Aku tak bisa ikut berziarah ke pusara Ibu.

Tiba-tiba gawai itu sudah berpindah tangan. Terdengar suara Ayah di seberang sana. Aku gugup seketika. Ku paksakan diri untuk menyapa Ayah lebih dulu.
"Papa, mohile ambungu," kataku dengan suara sedikit bergetar. Ah kenapa juga aku harus gugup. Bukankah jatuh cinta rasanya tak seberlebihan ini?
Terdengar suara kasak-kusuk di sana. Sampai akhirnya suara Ayah terdengar. Berat. "Ambungu de Eya," katanya.

Setelah adegan permohonan maaf selesai, aku tak tahu lagi hendak berkata apa. Dan bisa kutebak, Ayah juga pasti merasakan hal yang sama. Seketika atmosfer kecanggungan meliputi diri kami.
Ah, selalu seperti ini. Aku selalu gagal mencipta wacana bersama Ayah. Lagi, dan lagi, semuanya harus berakhir dalam diam. Seharusnya Ayah bisa sedikit lebih peka, bukankah perempuan terkenal menjunjung tinggi gengsinya untuk memulai? Sepertinya, Ayah tergolong laki-laki dengan tingkat kepekaan di bawah rata-rata sewaktu muda dulu.

Jujur saja, ada sedikit cemburu yang mengetuk sukma kala melihat perempuan sebayaku teramat dimanja oleh Ayahnya. Ada sedikit perasaan yang mengundang tanya perihal mengapa aku berbeda? Rasanya menyenangkan bisa bertukar pikiran dengan Ayah sendiri.
Bukankah begitu, Ayah?
Kota Gorontalo, 8 Mei 2019

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Hari Ke 3"

Post a Comment