Hari Ke 16

Hari Ke 16

Waktu sudah menunjukkan pukul 10 malam. Satya baru saja mengakhiri panggilan teleponnya dengan Divana saat Ari masuk ke kamarnya. Malam itu mereka dititahkan oleh Ibu Ari untuk menjaga rumah. Ata dan Ayah Ari yang menjaga Ibunya di rumah sakit. Namun, esok pagi-pagi sekali mereka akan ke rumah sakit untuk menjemput Ibu Ari. Kata Dokter, beliau sudah bisa pulang.
Satya yang keheranan mendapat kunjungan tiba-tiba dari Ari, menatap penuh selidik pada lelaki itu. Pasti ada sesuatu yang hendak Ari bahas dengannya.

"Habis telepon sama Divana ya?" tanya Ari mengawali percakapan mereka malam itu. Satya hanya mengangguk. Sepertinya, ia mulai bisa mencium aroma perbincangan ini.

"Emm ... dia pernah curhat soal mantannya nggak?" tanya Ari hati-hati. Ia tak ingin Satya berpikir ia lelaki yang senang bergosip. Lagi, Satya hanya mengangguk. Dalam hati ia terbahak melihat tingkah Ari yang lucu nan menggemaskan.

"Lo ... lo suka sama dia?" Pertanyaan Ari sukses membuat Satya terperangah. Ia tak menduga akan mendapatkan pertanyaan seperti itu.

"Siapa sih yang nggak akan jatuh cinta sama perempuan kayak dia?" Satya menjeda ucapannya. Berusaha menilik wajah Ari yang mulai diliputi cemburu. Ia kembali terbahak dalam hati. "Tapi selamanya gue cuma pengen sahabatan aja sama dia," lanjutnya.

"Kenapa? Peluang lo besar kali buat dapetin dia."
Tawa yang sedari tadi coba Satya tahan, akhirnya pecah juga demi mendengar penuturan Ari yang terkesan putus asa.


"Karena gue nggak akan pernah bisa gantiin posisi lelaki yang udah ninggalin dia. Tapi ... mungkin lo bisa."
"Lo aja nggak bisa, apalagi gue." Ari tertawa pedih. "Emang siapa mantannya?"
"Dia nggak pernah nyebut namanya. Nggak tau gue."
Perbincangan itu selesai ketika Satya menguap lebar. Ari yang bisa membaca sinyal itu segera undur diri. Ia tahu, Satya kelelahan karena seharian tadi mengurus loundry Ibunya.
***

Satyang called
Ari melirik pada layar ponsel Divana yang menampilkan sebuah panggilan masuk. Satyang? Ia yakin itu Satya. Sudah sejauh inikah hubungan mereka? Apa sebenarnya mereka saling menyembunyikan rasa agar tak terendus oleh siapa pun--termasuk dirinya? Ari mengepalkan tangan hingga terlihat buku-buku jarinya. Entah kenapa rasanya sesak.

Divana baru kembali dari toilet dan mendapati ponselnya berdering. Saat ia hendak mengangkat panggilan itu, sambungan telah terputus. Ia kemudian melirik Ari yang juga tengah menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan.

"Kok lo nggak ngangkat telepon Satya?" tanya Divana.
"Eh? Itu tadi Satya ya? Haha, gue salah liat. Gue bacanya "sayang"," kata Ari berbohong.
"Ooh, pantesan. Gue emang nyimpen nomornya pake nama Satyang."
"Satya sayang, ya?"
"Iya dong. Kan sahabat gue tersayang."

Benda persegi panjang itu kembali berdering. Divana buru-buru keluar kelas untuk mengangkat panggilan itu. Panggilan dari Satya sayang.

Ari menatap punggung Divana yang mulai hilang dari pandangan dengan tatapan nanar. Seistimewa itukah Satya untuk Divana? Sepertinya, ia telah kalah bahkan sebelum berjuang. Divana pasti tengah berusaha melenyapkan bayang-bayang masa lalunya dengan menghadirkan Satya secara utuh dalam hidupnya. Pada akhirnya, ialah yang akan terhempas dari pusaran semesta milik Divana.
***

Aku memilih membekukan rasa
Untuk nantinya menunggumu mencairkannya
Namun, aku salah membuat praduga
Nyatanya kamu lebih memilih dia
@afrizulari

Kota Gorontalo, 21 Mei 2019

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Hari Ke 16"

Post a Comment