Hari Ke 6
Hari Ke 6
Matahari sedang terik-teriknya saat hari ketiga Ramadhan. Kipas angin yang terletak di setiap pojok ruangan tak mampu menghilangkan gerah. Divana tengah membaca sebuah novel kolaborasi dari dua penulis muda, Stefani Bella dan Syahid Muhammad, yang berjudul Amor Fati setelah beberapa hari kemarin berhasil menghatamkan buku pertama mereka,
Kala
Di kelas hanya ada dirinya, Uut yang sibuk berselancar pada laman instagram, juga Ari yang yang lagi-lagi fokus dengan game-nya. Amat jelas pengaruh gadget dalam kehidupan. Mendekatkan yang jauh, menjauhkan yang dekat.
Divana berusaha tak menggubris teriakan Ari bersama teman-teman bermainnya. Namun, lama kelamaan ia mulai terganggu juga. Ia akhirnya mendelik pada Ari.
"Bisa diam nggak sih lo? Berisik tahu," kata Divana dengan ekspresi kesalnya.
Ari menghentikan permainannya dan mulai berjalan mendekati Divana. Ia menatap Divana dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Puasa tuh baca Qur'an, jangan hanya baca buku menye-menye," kata Ari sambil menepuk sampul buku yang tengah Divana baca.
"Mendingan baca buku, ada ilmunya. Daripada nge-game nggak jelas."
"Terserah lo deh."
"Ya udah."
Ari berjalan kembali ke tempatnya semula. Mulai sibuk dengan game-nya lagi. Namun, kali ini tanpa teriakan seperti sedia kala sebelum Divana memarahinya.
Divana keheranan melihat tingkah Ari kali ini. Biasanya, ia tak akan mendengarkan apapun yang Divana katakan. Namun, sekarang ia seperti mengalah pada Divana. Entahlah. Divana tak ingin ambil pusing.
"Vana, Vana. Temanin Uut cari makan dong!" kata Uut dengan wajah memelas.
"Kamu gila? Aku puasa Ut, dan kamu lihat cuacanya sekarang gimana kan?"
"Bentaran aja kok. Uut udah laper."
"Pergi sendiri aja gih."
Tiba-tiba Ari sudah berdiri di sebelah Divana. Divana menatapnya curiga. Pasti ia akan mengatakan sesuatu yang menyebalkan lagi.
"Lo itu sama temen sendiri kok gitu?" kata Ari sambil geleng-geleng kepala.
"Temen lo juga kan? Ya udah lo aja nemenin," sinis Divana.
"Ya udah. Ayo, Ut!" kata Ari membuat Divana dan Uut saling melempar pandang tak percaya. Seorang Ari, rela melakukan semua itu? Wah, ini sesuatu yang sangat langka.
"Eh? Yang bener, Ari?" tanya Uut tak percaya.
"Iya, buruan. Naik motor gue aja biar cepet. Gue tau kok dimana tempat makan yang buka jam segini."
Setelah mengatakan itu, Ari pun keluar lebih dulu. Kemudian disusul Uut setelah berpamitan pada Divana yang masih dilingkupi rasa tak percaya dengan perubahan sikap Ari. Ia pun berusaha tak peduli, dan mulai membaca kembali buku dalam genggamannya.
***
From: Areese
P
P
Gue depan kosan lo
Keluar!
Divana terbelalak demi melihat sebuah pesan yang singgah di ponselnya. Ia menatap benda persegi panjang itu berulang kali. Benarkah itu Ari? Ia pun membuka sedikit gorden jendela kamarnya demi melihat apakah benar Ari sedang berada di depan kosnya. Ia terkejut luar biasa saat mendapati siluet Ari yang tengah duduk manis di atas motornya.
Belum hilang rasa terkejutnya, Ari tiba-tiba saja menelepon. Sebenarnya ada apa dengan lelaki itu?
"Keluar lo! Gue di depan," kata Ari ketika panggilan terhubung.
"Ngapain lo?"
"Keluar aja kenapa sih? Buruan!"
Panggilan terputus. Divana menatap horor pada ponsel pintarnya. Dasar lelaki menyebalkan. Divana pun memilih keluar karena penasaran dengan tujuan lelaki itu berkunjung. Lebih tepatnya, mengganggu.
"Ngapain lo ke sini?" tanya Divana saat sudah tiba di depan Ari.
"Jangan geer ya lo."
"Idih, siapa juga?"
"Nih buat lo!"
Ari memberikan bungkusan berwarna merah pada Divana. Di dalamnya seperti tempat makanan.
"Apaan nih?"
"Makanan buat lo!"
"Ogah. Yang ada gue mati kalau makan ini."
"Enak aja lo. Ini makanan terlezat di alam semesta ya. Di masak langsung sama Nyokap gue."
"Terserah. Gue nggak mau."
"Apaan sih lo? Udah ngemis-ngemis minta makan sama Satya, terus giliran dianterin malah nggak mau. Mau lo apa sih?"
"Eh? Ini dari Satya? Tapi kenapa lo yang nganterin?"
"Nggak usah banyak nanya deh. Ambil aja!"
Setelah bungkusan itu berpindah tangan, Ari mulai menghidupkan mesin motornya dan berlalu dari sana tanpa sepatah kata pun.
Divana memang meminta bantuan Satya untuk membelikannya makanan. Bukan mengemis seperti yang dikatakan Ari. Namun, karena Satya harus mengantarkan beberapa pakaian pelanggan di loundry ibu Ari, akhirnya Satya meminta bantuan Ari. Awalnya Ari menolak mentah-mentah, tetapi karena Ibunya terus membeo tak jelas tentang betapa tak bergunanya ia sebagai anak, ia pun mengalah akhirnya.
***
Tanpa kusadari, semua tintaku habis menuliskan tentangmu
Kamu yang menyebalkan, dan akan selalu seperti itu
Kamu yang tak akan pernah menjelma kawan, dan selamanya tetap menjadi semu
Maaf, aku membencimu
@zakirahdivana
Kota Gorontalo, 11 Mei 2019
Matahari sedang terik-teriknya saat hari ketiga Ramadhan. Kipas angin yang terletak di setiap pojok ruangan tak mampu menghilangkan gerah. Divana tengah membaca sebuah novel kolaborasi dari dua penulis muda, Stefani Bella dan Syahid Muhammad, yang berjudul Amor Fati setelah beberapa hari kemarin berhasil menghatamkan buku pertama mereka,
Kala
Di kelas hanya ada dirinya, Uut yang sibuk berselancar pada laman instagram, juga Ari yang yang lagi-lagi fokus dengan game-nya. Amat jelas pengaruh gadget dalam kehidupan. Mendekatkan yang jauh, menjauhkan yang dekat.
Divana berusaha tak menggubris teriakan Ari bersama teman-teman bermainnya. Namun, lama kelamaan ia mulai terganggu juga. Ia akhirnya mendelik pada Ari.
"Bisa diam nggak sih lo? Berisik tahu," kata Divana dengan ekspresi kesalnya.
Ari menghentikan permainannya dan mulai berjalan mendekati Divana. Ia menatap Divana dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Puasa tuh baca Qur'an, jangan hanya baca buku menye-menye," kata Ari sambil menepuk sampul buku yang tengah Divana baca.
"Mendingan baca buku, ada ilmunya. Daripada nge-game nggak jelas."
"Terserah lo deh."
"Ya udah."
Ari berjalan kembali ke tempatnya semula. Mulai sibuk dengan game-nya lagi. Namun, kali ini tanpa teriakan seperti sedia kala sebelum Divana memarahinya.
Divana keheranan melihat tingkah Ari kali ini. Biasanya, ia tak akan mendengarkan apapun yang Divana katakan. Namun, sekarang ia seperti mengalah pada Divana. Entahlah. Divana tak ingin ambil pusing.
"Vana, Vana. Temanin Uut cari makan dong!" kata Uut dengan wajah memelas.
"Kamu gila? Aku puasa Ut, dan kamu lihat cuacanya sekarang gimana kan?"
"Bentaran aja kok. Uut udah laper."
"Pergi sendiri aja gih."
Tiba-tiba Ari sudah berdiri di sebelah Divana. Divana menatapnya curiga. Pasti ia akan mengatakan sesuatu yang menyebalkan lagi.
"Lo itu sama temen sendiri kok gitu?" kata Ari sambil geleng-geleng kepala.
"Temen lo juga kan? Ya udah lo aja nemenin," sinis Divana.
"Ya udah. Ayo, Ut!" kata Ari membuat Divana dan Uut saling melempar pandang tak percaya. Seorang Ari, rela melakukan semua itu? Wah, ini sesuatu yang sangat langka.
"Eh? Yang bener, Ari?" tanya Uut tak percaya.
"Iya, buruan. Naik motor gue aja biar cepet. Gue tau kok dimana tempat makan yang buka jam segini."
Setelah mengatakan itu, Ari pun keluar lebih dulu. Kemudian disusul Uut setelah berpamitan pada Divana yang masih dilingkupi rasa tak percaya dengan perubahan sikap Ari. Ia pun berusaha tak peduli, dan mulai membaca kembali buku dalam genggamannya.
***
From: Areese
P
P
Gue depan kosan lo
Keluar!
Divana terbelalak demi melihat sebuah pesan yang singgah di ponselnya. Ia menatap benda persegi panjang itu berulang kali. Benarkah itu Ari? Ia pun membuka sedikit gorden jendela kamarnya demi melihat apakah benar Ari sedang berada di depan kosnya. Ia terkejut luar biasa saat mendapati siluet Ari yang tengah duduk manis di atas motornya.
Belum hilang rasa terkejutnya, Ari tiba-tiba saja menelepon. Sebenarnya ada apa dengan lelaki itu?
"Keluar lo! Gue di depan," kata Ari ketika panggilan terhubung.
"Ngapain lo?"
"Keluar aja kenapa sih? Buruan!"
Panggilan terputus. Divana menatap horor pada ponsel pintarnya. Dasar lelaki menyebalkan. Divana pun memilih keluar karena penasaran dengan tujuan lelaki itu berkunjung. Lebih tepatnya, mengganggu.
"Ngapain lo ke sini?" tanya Divana saat sudah tiba di depan Ari.
"Jangan geer ya lo."
"Idih, siapa juga?"
"Nih buat lo!"
Ari memberikan bungkusan berwarna merah pada Divana. Di dalamnya seperti tempat makanan.
"Apaan nih?"
"Makanan buat lo!"
"Ogah. Yang ada gue mati kalau makan ini."
"Enak aja lo. Ini makanan terlezat di alam semesta ya. Di masak langsung sama Nyokap gue."
"Terserah. Gue nggak mau."
"Apaan sih lo? Udah ngemis-ngemis minta makan sama Satya, terus giliran dianterin malah nggak mau. Mau lo apa sih?"
"Eh? Ini dari Satya? Tapi kenapa lo yang nganterin?"
"Nggak usah banyak nanya deh. Ambil aja!"
Setelah bungkusan itu berpindah tangan, Ari mulai menghidupkan mesin motornya dan berlalu dari sana tanpa sepatah kata pun.
Divana memang meminta bantuan Satya untuk membelikannya makanan. Bukan mengemis seperti yang dikatakan Ari. Namun, karena Satya harus mengantarkan beberapa pakaian pelanggan di loundry ibu Ari, akhirnya Satya meminta bantuan Ari. Awalnya Ari menolak mentah-mentah, tetapi karena Ibunya terus membeo tak jelas tentang betapa tak bergunanya ia sebagai anak, ia pun mengalah akhirnya.
***
Tanpa kusadari, semua tintaku habis menuliskan tentangmu
Kamu yang menyebalkan, dan akan selalu seperti itu
Kamu yang tak akan pernah menjelma kawan, dan selamanya tetap menjadi semu
Maaf, aku membencimu
@zakirahdivana
Kota Gorontalo, 11 Mei 2019

0 Response to "Hari Ke 6"
Post a Comment