Hari Ke 2

Hari Ke 2
 
Bagi seorang perempuan, Ayah adalah cinta pertama di hidupnya. Satu-satunya lelaki yang tak memiliki niat sedikitpun untuk menyakiti. Yang ia pedulikan hanya kebahagiaan putrinya. Meski sering kali bahagianya sendiri terlupakan."

Kalimat bernada sama sering kali kubaca pada beberapa buku, juga postingan di media sosial. Betapa Ayah adalah orang yang paling bersedih tatkala putrinya tersakiti oleh lelaki selainnya yang hanya mampu mengumbar janji, tanpa berniat menepati. Memacari, tanpa kepastian menikahi.

Aku tak tahu apakah kalimat-kalimat itu hanya bualan untuk mengagungkan peran seorang Ayah. Karena realita yang kujalani bertolak belakang dengan ekspektasi dalam kalimat-kalimat itu. Aku dan Ayahku ibarat orang asing. Yang sehari-hari tak pernah bertegur sapa laiknya ayah dan anak.
Tak ada adegan mencium punggung tangan saat berangkat sekolah, kecuali saat perayaan hari raya saja. Berbicara pun seperlunya, seperti orang-orang yang miskin kosakata. Setiap bepergian, aku hanya meminta izin Ibu. Barulah, ketika Ibu berpulang pada dekapan Tuhan, aku mulai belajar untuk menganggap Ayah bagian dari hidupku.

Namun, ternyata sulit. Aku berkali-kali mencoba mencairkan suasana ketika bersama Ayah. Namun, yang kulakukan tetap saja diam. Mengatup rapat mulutku, sibuk berselancar pada gawai untuk meminimalisir kegugupanku.

Ayah, kita sudah terlalu jauh berkelana. Kau bertahan pada sikap dinginmu, aku terpaku dengan rasa takutku. Pada akhirnya, kita tetap tak saling bicara. Kau seperti orang lain bagiku.

Aku hanya rindu masa kecil dulu. Saat kau tak pernah sungkan memintaku memijat pundakmu yang kelelahan menggarap kebun. Saat kau dengan gamblang memintaku untuk mencabut uban di kepalamu.

Kini, kau melakukan semuanya sendiri. Padahal kita duduk tak jauh berseberangan. Aku ... menunggu Ayah sendiri yang memintaku melakukannya. Namun, hal itu tak pernah terjadi.
Ayah, tak bisakah kita berdamai?

Kota Gorontalo, 7 Mei 2019

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Hari Ke 2"

Post a Comment