Hari Ke 14
Hari Ke 14
Lorong rumah sakit sedang lengang sore itu. Hanya beberapa perawat yang lalu lalang hendak memeriksa pasien. Mungkin karena sebentar lagi buka puasa, mereka lebih memilih menunggu di kamar rawat keluarganya.
Satya mempercepat langkahnya. Ia terlambat 15 menit dari waktu biasanya. Di Masjid-masjid, pengajian mulai terdengar dari pengeras suara. Pertanda waktu buka puasa tinggal menghitung menit.
Satya mengetuk pintu. Dilihatnya Ari, Ata, dan Ayah mereka telah mengambil duduk sambil melingkar di lantai. Hanya tinggal menunggu Satya dan makanan yang mereka pesan.
"Maaf, Pi. Saya terlambat," kata Satya dengan wajah menyesal pada Ayah Ari. Orang tua Ari secara khusus memang meminta Satya untuk memanggil mereka dengan panggilan Mama-Papa. Namun, untuk membedakannya dengan Ari, Satya lebih memilih memanggil Mami-Papi untuk dua malaikat itu.
"Nggak apa-apa. Duduk, Nak!" kata Ayah Ari ramah.
Ata berdiri untuk mengambil makanan yang dibawa oleh Satya, dan mulai meletakkannya pada nampan.
"Dari mana kamu, Nak? Kok baru kelihatan." tanya Ibu Ari yang baru saja terjaga dari tidurnya.
"Emm ... tadi teman Satya minta beliin makanan dulu. Satya pikir bakal cepat. Ternyata tempatnya rame. Jadi antri, Mi."
"Siapa? Divana?" tebak Ari tepat sasaran. Satya hanya mengangguk menanggapi.
"Ooh, Divana pacar kamu itu? Kapan-kapan diajak atuh ke rumah. Kenalin sama Mami dan Papi." Ibu Ari berusaha menggoda Satya. Satya hanya menggaruk kepalanya yang tak gatal karena bingung menjelaskan.
"Nggak pacaran kok, Mi. Temenan aja. Ari tuh yang lagi proses."
Perkataan Satya sukses membuat Ari mati kutu. Dari mana Satya tahu bahwa ia menyukai Divana? Ah, mungkin naluri seorang lelaki, pikir Ari.
Suara ketukan bedug yang bertalu-talu menghentikan percakapan mereka. Waktunya membatalkan puasa.
***
Malam harinya selepas mendirikan shalat terawih, kamar Ibi Ari didatangi seorang perempuan cantik berkacamata. Siapa lagi kalau bukan Divana. Ari dan Satya saling melempar pandang tak percaya.
"Cepat sehat, Tante. Saya Divana. Teman sekelasnya Ari dan Satya," kata Divana sambil menyalami tangan Ibu Ari.
Beruntung Ayah dan kakaknya sedang pulang ke rumah untuk berganti pakaian. Sejauh ini, Ari merasa aman. Ia hanya tak ingin ada yang tiba-tiba membahas perihal percakapan sore tadi yang menyoal perasaannya pada Divana. Ia belum siap jika Divana harus tahu sekarang.
"Terima kasih, Sayang. Kamu cantik sekali," puji Ibu Ari membuat pipi Divana bersemu.
"Makasih, Tante. Tante juga cantik. Tapi kok anaknya jelek gitu?" kata Divana sambil melirik Ari. Ia hanya ingin mencairkan suasana.
Satya dan Ibu Ari terbahak mendengar pertanyaan Divana dengan wajah polos dibuat-buat. Ari hanya merengut kesal, tetapi dalam hati sedang pesta kembang api. Ia bahagia melihat interaksi Divana dan Ibunya. Semoga ini pertanda baik.
"Oh ya, Tante, Ayah sama Kakaknya Ari ke mana?"
"Pulang ke rumah dulu, ganti baju."
Divana hanya mengangguk paham mendengar jawaban Ibu Ari. Tiba-tiba mereka semua terkejut mendengar penuturan Ibu Ari.
"Vana jangan panggil tante dong. Panggil mama aja. Atau mami, kayak Satya."
Divana segera mengganti raut terkejutnya dengan senyum lebar. Tak menyangka Ibu Ari akan menerimanya sehangat ini. Divana akhirnya mengangguk.
"Siap, Mami." Sambil meletakkan tangan di kepala menyerupai orang yang memberi hormat. "Biar samaan sama Satya."
Mereka kemudian tertawa. Hanya Ari yang tawanya dipaksakan. Wajah memang tengah menampilkan senyum. Namun, hati bagai teriris sembilu. Mengapa baru sekarang ia merasakan cemburu melihat Divana dan Satya? Bukankah sejak semester awal mereka memang telah berteman?
***
Aku terlahir untuk memujamu sepenuh aku
Tak peduli meski matamu tercipta bukan untuk melirikku
Hanya harap yang selalu ku gantungkan setinggi langit
Semoga nanti aku mampu mencabut segala sakit
Saat tak ada sesiapa pun tempatmu berkeluh
Pelukku akan menjadikanmu utuh
Datanglah padaku ketika hatimu runtuh
Dan pergilah ketika tak lagi butuh
Tak mengapa,
Sungguh aku tidak apa-apa
@afrizulari
Kota Gorontalo, 19 Mei 2019
Lorong rumah sakit sedang lengang sore itu. Hanya beberapa perawat yang lalu lalang hendak memeriksa pasien. Mungkin karena sebentar lagi buka puasa, mereka lebih memilih menunggu di kamar rawat keluarganya.
Satya mempercepat langkahnya. Ia terlambat 15 menit dari waktu biasanya. Di Masjid-masjid, pengajian mulai terdengar dari pengeras suara. Pertanda waktu buka puasa tinggal menghitung menit.
Satya mengetuk pintu. Dilihatnya Ari, Ata, dan Ayah mereka telah mengambil duduk sambil melingkar di lantai. Hanya tinggal menunggu Satya dan makanan yang mereka pesan.
"Maaf, Pi. Saya terlambat," kata Satya dengan wajah menyesal pada Ayah Ari. Orang tua Ari secara khusus memang meminta Satya untuk memanggil mereka dengan panggilan Mama-Papa. Namun, untuk membedakannya dengan Ari, Satya lebih memilih memanggil Mami-Papi untuk dua malaikat itu.
"Nggak apa-apa. Duduk, Nak!" kata Ayah Ari ramah.
Ata berdiri untuk mengambil makanan yang dibawa oleh Satya, dan mulai meletakkannya pada nampan.
"Dari mana kamu, Nak? Kok baru kelihatan." tanya Ibu Ari yang baru saja terjaga dari tidurnya.
"Emm ... tadi teman Satya minta beliin makanan dulu. Satya pikir bakal cepat. Ternyata tempatnya rame. Jadi antri, Mi."
"Siapa? Divana?" tebak Ari tepat sasaran. Satya hanya mengangguk menanggapi.
"Ooh, Divana pacar kamu itu? Kapan-kapan diajak atuh ke rumah. Kenalin sama Mami dan Papi." Ibu Ari berusaha menggoda Satya. Satya hanya menggaruk kepalanya yang tak gatal karena bingung menjelaskan.
"Nggak pacaran kok, Mi. Temenan aja. Ari tuh yang lagi proses."
Perkataan Satya sukses membuat Ari mati kutu. Dari mana Satya tahu bahwa ia menyukai Divana? Ah, mungkin naluri seorang lelaki, pikir Ari.
Suara ketukan bedug yang bertalu-talu menghentikan percakapan mereka. Waktunya membatalkan puasa.
***
Malam harinya selepas mendirikan shalat terawih, kamar Ibi Ari didatangi seorang perempuan cantik berkacamata. Siapa lagi kalau bukan Divana. Ari dan Satya saling melempar pandang tak percaya.
"Cepat sehat, Tante. Saya Divana. Teman sekelasnya Ari dan Satya," kata Divana sambil menyalami tangan Ibu Ari.
Beruntung Ayah dan kakaknya sedang pulang ke rumah untuk berganti pakaian. Sejauh ini, Ari merasa aman. Ia hanya tak ingin ada yang tiba-tiba membahas perihal percakapan sore tadi yang menyoal perasaannya pada Divana. Ia belum siap jika Divana harus tahu sekarang.
"Terima kasih, Sayang. Kamu cantik sekali," puji Ibu Ari membuat pipi Divana bersemu.
"Makasih, Tante. Tante juga cantik. Tapi kok anaknya jelek gitu?" kata Divana sambil melirik Ari. Ia hanya ingin mencairkan suasana.
Satya dan Ibu Ari terbahak mendengar pertanyaan Divana dengan wajah polos dibuat-buat. Ari hanya merengut kesal, tetapi dalam hati sedang pesta kembang api. Ia bahagia melihat interaksi Divana dan Ibunya. Semoga ini pertanda baik.
"Oh ya, Tante, Ayah sama Kakaknya Ari ke mana?"
"Pulang ke rumah dulu, ganti baju."
Divana hanya mengangguk paham mendengar jawaban Ibu Ari. Tiba-tiba mereka semua terkejut mendengar penuturan Ibu Ari.
"Vana jangan panggil tante dong. Panggil mama aja. Atau mami, kayak Satya."
Divana segera mengganti raut terkejutnya dengan senyum lebar. Tak menyangka Ibu Ari akan menerimanya sehangat ini. Divana akhirnya mengangguk.
"Siap, Mami." Sambil meletakkan tangan di kepala menyerupai orang yang memberi hormat. "Biar samaan sama Satya."
Mereka kemudian tertawa. Hanya Ari yang tawanya dipaksakan. Wajah memang tengah menampilkan senyum. Namun, hati bagai teriris sembilu. Mengapa baru sekarang ia merasakan cemburu melihat Divana dan Satya? Bukankah sejak semester awal mereka memang telah berteman?
***
Aku terlahir untuk memujamu sepenuh aku
Tak peduli meski matamu tercipta bukan untuk melirikku
Hanya harap yang selalu ku gantungkan setinggi langit
Semoga nanti aku mampu mencabut segala sakit
Saat tak ada sesiapa pun tempatmu berkeluh
Pelukku akan menjadikanmu utuh
Datanglah padaku ketika hatimu runtuh
Dan pergilah ketika tak lagi butuh
Tak mengapa,
Sungguh aku tidak apa-apa
@afrizulari
Kota Gorontalo, 19 Mei 2019

0 Response to "Hari Ke 14"
Post a Comment