Hari Ke 20
Hari Ke 20
Menjelang pukul 9 malam, Satya tiba di rumah. Pintu terbuka setengah, menampilkan Ari dan Divana yang tengah sibuk memandangi laptop masing-masing. Sepertinya mereka telah membagi tugas untuk setiap orang. Tak jauh dari sana, Ayah Ari tengah menonton TV terkait masalah pilpres yang beberapa hari kemarin telah diumumkan oleh KPU.
Di sofa sebelah kiri Ayah Ari duduk, tampak ibunya yang tengah berbaring sambil berselimut. Mungkin baru saja terlelap. Hal yang membuat Satya bertanya-tanya, kenapa Ibu Ari tak tidur di kamarnya saja?
Ia pun mendekat untuk menyalami Ayah Ari. Ayah Ari yang terkejut dengan kehadiran Satya, segera membangunkan istrinya.
"Ma, Satya sudah pulang," kata Ayah Ari sambil mengguncang tubuh ibu Ari pelan.
Pertanyaan Satya bertambah satu. Kenapa Ibu Ari menunggunya pulang?
Setelah kesadarannya pulih, Ibu Ari menatap Satya dengan binar yang sulit diartikan. Kemudian berujar, "Ikut Mami ke kamar. Ada yang ingin Mami bicarakan."
Satya yang masih dipenuhi tanya, hanya mengekor saja saat Ibu Ari sudah melangkah lebih dulu ke kamarnya. Ayah Ari tak banyak bicara. Justru kembali fokus menonton berita di Televisi.
"Kenapa baru pulang?" Pertanyaan pertama yang dilontarkan Ibu Ari membuat nyali Satya menciut. Entahlah. Ia merasa Ibu Ari akan marah setelah ini.
"Satya lagi beresin loundry. Agak berantakan tadi."
"Itu bukan alasan sebenarnya, kan?"
"Ma--maksud Mami?"
"Nak, jangan hanya karena kamu merasa berhutang budi pada keluarga ini, kamu harus mengorbankan perasaanmu sendiri."
"Satya nggak ngerti apa maksud Mami."
"Satya suka sama Divana, kan? Bahkan sudah lama. Mami benar?"
"Satya hanya nganggap Divana sahabat aja kok, Mi."
"Tatap mata Mami dan bilang kalau Satya nggak punya perasaan apa pun ke Divana!"
Titah yang diberikan Ibu Ari membuat Satya terdiam. Ia menunduk dalam. Mungkin ia bisa membohongi orang lain. Namun, naluri seorang Ibu tetap saja tak terkalahkan--meskipun bukan ibu kandung. Bahkan untuk membohongi diri sendiri saja ia mampu.
Ibu Ari mendekat dan memeluk Satya erat. Dapat ia rasakan tubuh itu bergetar menahan tangis. Satya berusaha tak terlihat rapuh di depan Malaikatnya itu.
"Nak, kalau memang suka, kejar! Bersainglah dengan sehat bersama Ari. Ari juga sama berjuangnya dengan Satya. Bedanya, Ari berjuang agar terlihat, sementara Satya berjuang agar tertimbun. Pada akhirnya keputusan Divana lah yang akan menentukan semuanya. Kalian berdua hanya perlu terus memperbaiki diri agar terlihat pantas."
Akhirnya, air mata yang sedari tadi coba Satya redam, akhirnya mengalir juga. Ia menangis tanpa suara. Takut jika ada penghuni rumah ini yang tahu bahwa ia serapuh ini. Cukup ibu Ari saja yang tahu.
***
Setelah mencuci muka, Satya bergabung bersama Divana dan Ari yang masih terus memandang layar laptopnya.
"Serius amat kalian berdua."
"Ya iyalah. Deadline-nya jam 7 pagi dan lo malah nyantai. Udah, kerja sana bagian lo!"
"Oke boss!"
Satya mulai menghidupkan laptopnya. Lalu segera mengerjakan bagiannya.
"Oh ya, Divana. Kata Mami kamu disuruh nginep sini aja. Entar tidurnya bareng Mami."
"Eh? Nggak apa-apa emang? Terus gimana sama Papa Ari?"
"Kayaknya tidur di ruang tamu deh."
"Ah, aku nggak enak nih."
"Nggak apa-apa mah. Mungkin Mami juga udah ngomong ke Papi."
"Ya udah deh."
"Kebetulan, besok kakak Ari juga mau dateng. Nanti sekalian kenalan. Orangnya asik kok. Dan pastinya, lebih tampan dari Ari."
"Anj*y!"
Mereka tertawa karena berhasil mem-bully Ari. Sampai terdengar suara batuk dari Ayah Ari, menandakan bahwa mereka disuruh mengecilkan suaranya. Akhirnya mereka memutuskan untuk kembali mengerjakan tugasnya masing-masing.
Ketika waktu sudah menunjukkan pukul 23.56, mereka memutuskan untuk segera beristirahat. Lagipula tugas mereka sudah rampung hampir 65%. Nanti selepas Subuh, mereka akan kembali melanjutkan pekerjaannya.
Satya segera mengantar Divana ke kamar Ibu Ari. Ari sebenarnya ingin melakukannya. Namun, lagi-lagi egonya mencegah hal itu. Entah sampai kapan ia akan terus menjadi pengecut di depan Divana. Mungkin sampai Divana jatuh ke pelukan Satya.
"Selamat tidur. Mimpiin aku," kata Satya sambil tertawa pelan.
"Ngaco!" kata Divana tersenyum. Lalu mulai menutup pintu kamar dan melambai pada Satya.
Ari yang tak sengaja melihat adegan itu, terbakar api cemburu. Benar, sepertinya ia benar-benar sudah kalah. Sampai kapan pun, Divana tak akan pernah meliriknya.
***
Tuhan, beginikah rasanya rebah dalam dekap seorang Ibu?
Hal yang sejak kecil hanya sekadar angan semata
Hal yang selalu melahirkan keirihatian di dalam kalbu
Akhirnya kini singgah di pelupuk mata
Rasanya damai sekali
Seperti lenyap segala penat
Seakan musnah segala resah
Pelukan Ibu, aku akan selalu merindunya
@pras.1998
Kota Gorontalo, 25 Mei 2019
Menjelang pukul 9 malam, Satya tiba di rumah. Pintu terbuka setengah, menampilkan Ari dan Divana yang tengah sibuk memandangi laptop masing-masing. Sepertinya mereka telah membagi tugas untuk setiap orang. Tak jauh dari sana, Ayah Ari tengah menonton TV terkait masalah pilpres yang beberapa hari kemarin telah diumumkan oleh KPU.
Di sofa sebelah kiri Ayah Ari duduk, tampak ibunya yang tengah berbaring sambil berselimut. Mungkin baru saja terlelap. Hal yang membuat Satya bertanya-tanya, kenapa Ibu Ari tak tidur di kamarnya saja?
Ia pun mendekat untuk menyalami Ayah Ari. Ayah Ari yang terkejut dengan kehadiran Satya, segera membangunkan istrinya.
"Ma, Satya sudah pulang," kata Ayah Ari sambil mengguncang tubuh ibu Ari pelan.
Pertanyaan Satya bertambah satu. Kenapa Ibu Ari menunggunya pulang?
Setelah kesadarannya pulih, Ibu Ari menatap Satya dengan binar yang sulit diartikan. Kemudian berujar, "Ikut Mami ke kamar. Ada yang ingin Mami bicarakan."
Satya yang masih dipenuhi tanya, hanya mengekor saja saat Ibu Ari sudah melangkah lebih dulu ke kamarnya. Ayah Ari tak banyak bicara. Justru kembali fokus menonton berita di Televisi.
"Kenapa baru pulang?" Pertanyaan pertama yang dilontarkan Ibu Ari membuat nyali Satya menciut. Entahlah. Ia merasa Ibu Ari akan marah setelah ini.
"Satya lagi beresin loundry. Agak berantakan tadi."
"Itu bukan alasan sebenarnya, kan?"
"Ma--maksud Mami?"
"Nak, jangan hanya karena kamu merasa berhutang budi pada keluarga ini, kamu harus mengorbankan perasaanmu sendiri."
"Satya nggak ngerti apa maksud Mami."
"Satya suka sama Divana, kan? Bahkan sudah lama. Mami benar?"
"Satya hanya nganggap Divana sahabat aja kok, Mi."
"Tatap mata Mami dan bilang kalau Satya nggak punya perasaan apa pun ke Divana!"
Titah yang diberikan Ibu Ari membuat Satya terdiam. Ia menunduk dalam. Mungkin ia bisa membohongi orang lain. Namun, naluri seorang Ibu tetap saja tak terkalahkan--meskipun bukan ibu kandung. Bahkan untuk membohongi diri sendiri saja ia mampu.
Ibu Ari mendekat dan memeluk Satya erat. Dapat ia rasakan tubuh itu bergetar menahan tangis. Satya berusaha tak terlihat rapuh di depan Malaikatnya itu.
"Nak, kalau memang suka, kejar! Bersainglah dengan sehat bersama Ari. Ari juga sama berjuangnya dengan Satya. Bedanya, Ari berjuang agar terlihat, sementara Satya berjuang agar tertimbun. Pada akhirnya keputusan Divana lah yang akan menentukan semuanya. Kalian berdua hanya perlu terus memperbaiki diri agar terlihat pantas."
Akhirnya, air mata yang sedari tadi coba Satya redam, akhirnya mengalir juga. Ia menangis tanpa suara. Takut jika ada penghuni rumah ini yang tahu bahwa ia serapuh ini. Cukup ibu Ari saja yang tahu.
***
Setelah mencuci muka, Satya bergabung bersama Divana dan Ari yang masih terus memandang layar laptopnya.
"Serius amat kalian berdua."
"Ya iyalah. Deadline-nya jam 7 pagi dan lo malah nyantai. Udah, kerja sana bagian lo!"
"Oke boss!"
Satya mulai menghidupkan laptopnya. Lalu segera mengerjakan bagiannya.
"Oh ya, Divana. Kata Mami kamu disuruh nginep sini aja. Entar tidurnya bareng Mami."
"Eh? Nggak apa-apa emang? Terus gimana sama Papa Ari?"
"Kayaknya tidur di ruang tamu deh."
"Ah, aku nggak enak nih."
"Nggak apa-apa mah. Mungkin Mami juga udah ngomong ke Papi."
"Ya udah deh."
"Kebetulan, besok kakak Ari juga mau dateng. Nanti sekalian kenalan. Orangnya asik kok. Dan pastinya, lebih tampan dari Ari."
"Anj*y!"
Mereka tertawa karena berhasil mem-bully Ari. Sampai terdengar suara batuk dari Ayah Ari, menandakan bahwa mereka disuruh mengecilkan suaranya. Akhirnya mereka memutuskan untuk kembali mengerjakan tugasnya masing-masing.
Ketika waktu sudah menunjukkan pukul 23.56, mereka memutuskan untuk segera beristirahat. Lagipula tugas mereka sudah rampung hampir 65%. Nanti selepas Subuh, mereka akan kembali melanjutkan pekerjaannya.
Satya segera mengantar Divana ke kamar Ibu Ari. Ari sebenarnya ingin melakukannya. Namun, lagi-lagi egonya mencegah hal itu. Entah sampai kapan ia akan terus menjadi pengecut di depan Divana. Mungkin sampai Divana jatuh ke pelukan Satya.
"Selamat tidur. Mimpiin aku," kata Satya sambil tertawa pelan.
"Ngaco!" kata Divana tersenyum. Lalu mulai menutup pintu kamar dan melambai pada Satya.
Ari yang tak sengaja melihat adegan itu, terbakar api cemburu. Benar, sepertinya ia benar-benar sudah kalah. Sampai kapan pun, Divana tak akan pernah meliriknya.
***
Tuhan, beginikah rasanya rebah dalam dekap seorang Ibu?
Hal yang sejak kecil hanya sekadar angan semata
Hal yang selalu melahirkan keirihatian di dalam kalbu
Akhirnya kini singgah di pelupuk mata
Rasanya damai sekali
Seperti lenyap segala penat
Seakan musnah segala resah
Pelukan Ibu, aku akan selalu merindunya
@pras.1998
Kota Gorontalo, 25 Mei 2019

0 Response to " Hari Ke 20"
Post a Comment