Hari Ke 13

Hari Ke 13

Apalah artinya pulang, jika rumah tak lagi menjelma tempat ternyaman, batin Divana. Ia baru saja menerima pesan singkat dari Ibunya yang memintanya untuk pulang lebaran tahun ini. Sejak menjadi mahasiswa, Divana tak pernah sekali pun pulang ke kampung halamannya.

Ia benci tempat yang menyerupai neraka itu. Tak ada sedetik pun yang terlewati tanpa pertengkaran antara Ayah dan Ibunya. Hari-harinya hanya diwarnai kelam, membuatnya ingin berpindah dimensi. Ia lelah jika harus mendengarkan gema teriakan yang melengking dari mulut Ibunya. Terlebih bunyi telapak tangan Ayahnya yang singgah di pipi.
From: 0852xxxxxxxx




Selepas lebaran, Ibu dan Ayah akan bercerai. Tolong kamu juga datang ke pengadilan.
Lagi, pesan dari Ibunya singgah ke ponselnya. Ia hanya melirik sekilas, kemudian segera menghapus pesan itu. Dadanya seketika bergemuruh. Tak percaya keluarga kecilnya akan berakhir seperti ini. Air matanya menitik perlahan, mengairi pipi tirusnya yang berlesung.

Ia kemudian menghubungi Satya. Ia butuh seseorang untuk mendengarkan segala keluh. Karena hanya lelaki itu satu-satunya tempatnya berbagi pilu, tak sungkan ia pun mengajak Satya untuk jalan-jalan menyusuri perkotaan.

"Aduh, maaf nih. Lagi banyak kerjaan di loundry. Sejak mama Ari masuk rumah sakit, kerjaan di loundry makin numpuk," kata Satya dengan nada sedikit bersalah. Di saat Divana membutuhkan, ia tak berada di sisinya.

Panggilan akhirnya terputus dengan Divana yang mengatakan tidak apa-apa. Ia tahu Satya berhutang budi pada keluarga Ari. Ia memaklumi posisi Satya.
Divana menimbang-nimbang apakah harus menghubungi Ari atau tidak. Hubungan mereka memang sedikit mulai membaik. Namun, hal itu tak serta merta membuat mereka bisa menjadi dekat. Mereka tetap saja dua orang yang saling asing.
Dering pada ponselnya membuatnya terkejut. Panggilan masuk dari Ari. Semesta, kebetulankah ini?

"Lo di mana?" tanya Ari ketika mereka saling terhubung.
"Di kosan. Kenapa?"
"Sibuk, nggak?"
"Kenapa?"
"Jawab dulu kenapa sih."
"Enggak."
"Emm ... mau jalan?"
"Enggak. Gue ngantuk. Udah, bye."

Divana segera memutus sambungan secara sepihak. Ia hanya belum siap membagi masalahnya dengan Ari. Baginya, Ari belumlah memiliki predikat sahabat seperti yang telah ia sematkan pada Satya. Entah mengapa, bersama Satya, ia merasa terlindungi. Mungkin karena Satya yang pemikirannya dewasa dan selalu bijak dalam memberikan solusi. Selain sahabat, ia telah menganggap Satya seperti kakaknya sendiri.
***

Di tempat lain, Ari menatap nanar layar ponselnya setelah Divana mematikan panggilan secara sepihak. Jelas-jelas tadi Satya memberitahunya bahwa Divana sedang butuh teman curhat. Satya pula yang meminta pertolongan Ari untuk menemani Divana jalan-jalan karena ia sedang banyak kerjaan.
Namun, jawaban Divana membuatnya nelangsa. Apa arti Satya untuk Divana? Mengapa hanya pada Satya saja Divana akan menampakkan sisi rapuhnya? Padahal selama ini ia tak pernah mempermasalahkan kedekatan mereka. Kenapa rasanya sekarang ia baru menyesalinya? Bukankah perasaan perempuan itu lembut, mudah digoyahkan oleh suntikan-suntikan perhatian yang akhirnya membuat nyaman?
***

Apa itu rumah?
Tempat untuk rebah, ruang paling tabah
Meski berkali-kali ditinggalkan,
Pada rumah lah tubuh akan terhangatkan
Tak ada pulang yang tak bersambut
Rumah akan selalu menyambut
Tak ada pergi yang bertahan lama
Rumah akan selamanya sama
Pulang(kah)?
@zakirahdivana

Kota Gorontalo, 18 Mei 2019

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Hari Ke 13"

Post a Comment