Hari Ke 10

Hari Ke 10

Perasaan nyaman terkadang menyapa ketika kedekatan mulai tercipta. Seperti yang terjadi pada Divana dan Ari. Malam ini, pertemuan kedua mereka dengan bu Yunita. Ari kembali menjemput Divana seperti biasa. Meskipun belum terlalu tampak, tetapi mereka mulai bisa mengobrol dengan santai. Perdebatan mulai berkurang.

Namun, keesokan harinya saat di kampus, Divana menyapa Ari yang datang dengan wajah datarnya seperti biasa. Ari hanya menatap sekilas, kemudian mengacuhkan Divana. Kepala Divana tentu saja mulai digerayangi tanya. Apa Ari kembali ke sifat aslinya?


"Lo udah nyiapin materi buat ujian PPL nanti belum?" tanya Divana mendekati Ari yang baru saja meletakkan ranselnya.
"Belum," balas Ari singkat.
"Loh, kenapa? Tumben lo nunda-nunda kerjaan."
"Berisik banget sih. Bukan urusan lo kali."
"Kok lo malah sewot sih? Gue 'kan nanya baik-baik."
"Gue lagi nggak pengen diganggu. Mending lo pergi dari hadapan gue."
Divana hanya menatap Ari dengan tatap tak percaya. Kemudian berbalik kembali ke tempat duduknya.
"Teman kamu kenapa sih? Marah-marah nggak jelas gitu," adu Divana pada Satya.
"Dia lagi banyak pikiran. Nyokapnya masuk rumah sakit."
"Oh, ya ampun."

Divana kembali menolehkan kepalanya menatap Ari. Diam-diam dalam hati merapalkan harap untuk kesembuhan wanita satu-satunya yang Ari cintai.
***

Satya tengah menjaga Ibu Ari yang terkulai lemah di ranjang pesakitan. Dalam lelapnya, wanita paruh baya itu terus mengigau memanggil nama seseorang. Satya pun keluar untuk memanggil Ari
yang tengah merokok di rooftop rumah sakit.

"Ata itu siapa?" tanya Satya pada Ari yang baru saja menyalakan rokok ketiganya. Beginilah ia jika sedang stress.
"Kakak gue."
"Lo bukannya anak tunggal?"
"Nggak. Gue bungsu. Kakak gue diadopsi sama tante gue yang mandul saat usianya lima tahun."
"Terus nggak pernah datang lagi ke rumah lo?"
"Nggak ada. Aku sama mama aja yang sering ke sana. Ke Paguyaman."
"Wah, sekampung sama Divana dong ya."

Ari hanya mengangguk mengiyakan. Tiba-tiba terbayang perlakuan buruknya pada Divana siang tadi. Menambah beban pikirannya. Ia semakin menyesap rokok itu dalam-dalam.
***

Teguh Dewata adalah anak sulung di keluarga Ari. Ia tumbuh melebihi usianya. Sejak berusia 3 tahun, ia sudah mulai bisa membaca dan menulis, meskipun belum terlalu lancar. Saat usianya 5 tahun, ibunya melahirkan seorang bayi laki-laki yang diberi nama Afrizul Restu Sandika yang lebih sering disapa dengan Ari.

Ata sangat menyayangi adiknya. Meskipun kasih sayang orang tuanya tak lagi utuh padanya, ia tak merasa sedih. Justru ia ingin adiknya dilimpahi kasih sayang yang sempurna. Namun, ketika adiknya memasuki usia 5 bulan, tantenya datang dan mengutarakan maksud untuk mengadopsi Ari.

"Mbak 'kan sudah punya Ata. Ari biar aku yang ngurus, ya?" pinta tantenya waktu itu.
Ata kecil melihat raut sedih yang begitu kentara dari wajah orang tuanya. Seolah tak ada kerelaan untuk melepas adik kesayangannya itu. Akhirnya, Ata menawarkan diri untuk menggantikan Ari. Biar ia saja yang ikut tantenya. Adiknya tetap tinggal bersama ayah-ibunya.
Ata tumbuh menjadi lelaki yang tampan dan juga cerdas. Dua kali ia masuk kelas akselerasi, saat SMP dan saat SMA. Baru hitungan bulan ia duduk di kelas 7, sudah dinaikkan ke kelas 9 karena kecerdasannya. Begitu pula saat kelas 10, langsung dinaikkan ke kelas 12.
Ari sebetulnya iri pada kakaknya itu. Ia hanya sekali saja masuk kelas akselerasi, saat kelas 10 yang langsung dinaikkan ke kelas 12. Sampai kapanpun, ia tak akan bisa menandingi kehebatan kakaknya.
Bahkan di hati ibunya, ia ibarat titik kecil, sementara kakaknya adalah samudera yang maha luas. Meskipun ibunya tak pernah mengungkit cerita tentang kakaknya, ia tahu rindu itu terus bertumbuh setiap hari mengisi rongga dada.
***

Untuk semua laku yang menyakiti
Untuk setiap kata yang meniadakan arti
Maaf, aku hanya ingin sedikit terlihat
Ibu, tanpamu duniaku kiamat
@afrizulari

Kota Gorontalo, 15 Mei 2019

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Hari Ke 10"

Post a Comment