Hari Ke 17
Hari Ke 17
Satya tengah sibuk membagi kelompok untuk tugas Analisis Kompleks yang baru diberikan sang dosen. Sebagai ketua tingkat di kelasnya, ia harus berkutat dengan absen saat ini untuk membagi sama rata tiap anggota kelompok. Agar tak menuai protes dari teman-temannya.
"Oke, jadi tiap kelompok 3 orang ya." Satya mulai membacakan nama masing-masing kelompok. "Kelompok terakhir, kelompok 6, gue, Ari, dan Vana."
Seketika ruang kelas berbentuk kubus itu ricuh oleh protes teman-temannya yang tak terima jika mereka bertiga yang bisa dibilang paling jenius di kelas, harus berada dalam satu kelompok.
"Oke, tenang dulu, tenang," kata Satya berusaha menjelaskan. "Jadi materi terakhir itu bagiannya banyak, plus sulitnya minta ampun. Jadi, untuk menyelamatkan nilai kita semua, aku sengaja bikin kelompoknya kayak gini. Kalau ada yang pengen tukeran kelompok, coba liat dulu materinya. Kalau emang yakin bisa, ya, aku ubah lagi kelompoknya."
Satu persatu teman-temannya mulai membuka aplikasi WPS Office di ponsel masing-masing. Hendak mencari tahu apakah Satya berbohong atau tidak. Mereka pun membaca materi yang telah Satya kirimkan ke grup WhatsApp kelas.
Beberapa detik kemudian, mereka saling pandang satu sama lain. Seolah tatapan itu menyiratkan satu suara yang sama bahwa mereka tak keberatan dengan pembagian kelompok ini. Justru dalam hati mengucap syukur tak berhingga karena Satya begitu memahami kapasitas kemampuan mereka.
"Gimana? Ada yang mau tukeran?" tanya Satya sembari menaikturunkan alisnya.
Semuanya menggeleng. Satya tersenyum puas. Kemudian melirik Divana dan mengedipkan satu matanya. Divana hanya tertawa melihat kekonyolan itu.
Ari sedang izin mata kuliah. Sebab Ibunya baru saja keluar dari rumah sakit. Lagipula, Ata akan kembali ke rumah orang tua angkatnya hari ini. Ari berusaha membujuk untuk tetap tinggal beberapa hari lagi. Namun, Ata menolak dengan dalih hendak mempersiapkan soal untuk ujian semesteran selepas hari raya.
***
Pukul 1 siang, Satya tiba di rumah. Ia mengintip ke kamar ibu Ari, ibunya tengah terlelap. Sendirian. Mungkin Ari sedang berada di kamarnya. Satya pun membawa kakinya melangkah ke kamar Ari.
Pintu kamar Ari terbuka lebar. Satya melangkah masuk dan mendapati Ari yang tengah berbaring terlentang sambil menatap langit-langit kamarnya. Kedua telinganya disumbat dengan earphone. Entah lagu apa yang tengah didengarnya.
"Bro!" panggil Satya karena Ari sepertinya sedang melamunkan sesuatu dan tak menyadari kehadirannya.
Ari mulai mendudukkan tubuhnya dan melepas earphone dari satu telinganya.
"Baru pulang lo? Gimana kuliah hari ini?"
"Nggak jadi masuk. Bapak hanya ngasih tugas."
"Terus UAS-nya kapan?"
"Tugas ini sebagai nilai UAS. Tugasnya kelompok."
"Wah, baguslah. Aku sekelompok sama siapa?"
"Gue ... dan Divana."
Ari terhenyak untuk beberapa saat. Benarkah itu? Diam-diam ia bersorak dalam hati. Meski wajahnya tetap saja datar, Satya tahu bahwa ia tengah bahagia saat ini.
"Senyum aja mah kalau mau senyum. Nggak usah malu sama gue," goda Satya sambil tertawa.
"Eh, apaan dah. Biasa aja gue." Ari ikut tertawa.
"Emm ... kalau kita ngerjainnya di sini boleh nggak? Mami bakalan marah nggak ya?"
"Boleh banget kok. Lo kan tau sendiri mama gue seneng sama Divana."
"Iya juga sih. Entar sore selepas Ashar, lo jemput dia ke sini ya."
"Eh? Kok gue?"
"Ya iya. Gue mau ngurus loundry dulu. Terus lo mulai kerja aja sama dia. Setelah Terawih baru gue nyusul."
"Loh? Kok gitu?"
"Nggak usah banyak nanya deh. Divana fine-fine aja tuh pas gue bilangin. Lo drama banget."
"Anj*y!"
Tawa Satya pecah mendengar kata mutiara yang keluar dari bibir Ari. Ia pun mohon diri untuk segera ke loundry. Ibu Ari belum benar-benar pulih. Masih perlu banyak istirahat kata Dokter. Jadi, Satya tetap harus stay di loundry hingga Ibu Ari sembuh benar.
***
Sepeninggal Satya, Ari kembali merebahkan tubuhnya pada kasur empuknya. Lagu yang berjudul "Pemeran Pengganti" yang dinyanyikan oleh Fiersa Besari tengah mengalun memenuhi telinganya.
Kusadar ku pemeran pengganti
Tak pernah benar-benar di hati
Biarlah biar aku bertahan
Mungkin esok rasamu sungguhan
Lagu itu seolah melukiskan posisinya saat ini. Mungkin bagi Divana, Satya adalah rumah. Tempat ternyaman untuk melepas segala penat. Sementara dirinya adalah halte yang hanya disinggahi, namun akhirnya ditinggal pergi. Semenyedihkan itu dirinya saat ini.
***
Tempat apa yang paling ingin kau sambangi?
Biarkan aku coba mengimbangi
Mungkin kita bisa sama-sama menatap pelangi
Daripada acara TV yang lebih sering memerangi
Ah, atau kau ingin bermain di bawah hujan?
Lalu kita akan saling menghangati lewat genggaman
Dan perlahan rasa itu tercipta lewat debaran
Hingga tanpa sadar kita menikmatinya dengan pejaman
Teruntuk kamu, seseorang yang masih menjelma kawan
@afrizulari
Kota Gorontalo, 25 Mei 2019
Satya tengah sibuk membagi kelompok untuk tugas Analisis Kompleks yang baru diberikan sang dosen. Sebagai ketua tingkat di kelasnya, ia harus berkutat dengan absen saat ini untuk membagi sama rata tiap anggota kelompok. Agar tak menuai protes dari teman-temannya.
"Oke, jadi tiap kelompok 3 orang ya." Satya mulai membacakan nama masing-masing kelompok. "Kelompok terakhir, kelompok 6, gue, Ari, dan Vana."
Seketika ruang kelas berbentuk kubus itu ricuh oleh protes teman-temannya yang tak terima jika mereka bertiga yang bisa dibilang paling jenius di kelas, harus berada dalam satu kelompok.
"Oke, tenang dulu, tenang," kata Satya berusaha menjelaskan. "Jadi materi terakhir itu bagiannya banyak, plus sulitnya minta ampun. Jadi, untuk menyelamatkan nilai kita semua, aku sengaja bikin kelompoknya kayak gini. Kalau ada yang pengen tukeran kelompok, coba liat dulu materinya. Kalau emang yakin bisa, ya, aku ubah lagi kelompoknya."
Satu persatu teman-temannya mulai membuka aplikasi WPS Office di ponsel masing-masing. Hendak mencari tahu apakah Satya berbohong atau tidak. Mereka pun membaca materi yang telah Satya kirimkan ke grup WhatsApp kelas.
Beberapa detik kemudian, mereka saling pandang satu sama lain. Seolah tatapan itu menyiratkan satu suara yang sama bahwa mereka tak keberatan dengan pembagian kelompok ini. Justru dalam hati mengucap syukur tak berhingga karena Satya begitu memahami kapasitas kemampuan mereka.
"Gimana? Ada yang mau tukeran?" tanya Satya sembari menaikturunkan alisnya.
Semuanya menggeleng. Satya tersenyum puas. Kemudian melirik Divana dan mengedipkan satu matanya. Divana hanya tertawa melihat kekonyolan itu.
Ari sedang izin mata kuliah. Sebab Ibunya baru saja keluar dari rumah sakit. Lagipula, Ata akan kembali ke rumah orang tua angkatnya hari ini. Ari berusaha membujuk untuk tetap tinggal beberapa hari lagi. Namun, Ata menolak dengan dalih hendak mempersiapkan soal untuk ujian semesteran selepas hari raya.
***
Pukul 1 siang, Satya tiba di rumah. Ia mengintip ke kamar ibu Ari, ibunya tengah terlelap. Sendirian. Mungkin Ari sedang berada di kamarnya. Satya pun membawa kakinya melangkah ke kamar Ari.
Pintu kamar Ari terbuka lebar. Satya melangkah masuk dan mendapati Ari yang tengah berbaring terlentang sambil menatap langit-langit kamarnya. Kedua telinganya disumbat dengan earphone. Entah lagu apa yang tengah didengarnya.
"Bro!" panggil Satya karena Ari sepertinya sedang melamunkan sesuatu dan tak menyadari kehadirannya.
Ari mulai mendudukkan tubuhnya dan melepas earphone dari satu telinganya.
"Baru pulang lo? Gimana kuliah hari ini?"
"Nggak jadi masuk. Bapak hanya ngasih tugas."
"Terus UAS-nya kapan?"
"Tugas ini sebagai nilai UAS. Tugasnya kelompok."
"Wah, baguslah. Aku sekelompok sama siapa?"
"Gue ... dan Divana."
Ari terhenyak untuk beberapa saat. Benarkah itu? Diam-diam ia bersorak dalam hati. Meski wajahnya tetap saja datar, Satya tahu bahwa ia tengah bahagia saat ini.
"Senyum aja mah kalau mau senyum. Nggak usah malu sama gue," goda Satya sambil tertawa.
"Eh, apaan dah. Biasa aja gue." Ari ikut tertawa.
"Emm ... kalau kita ngerjainnya di sini boleh nggak? Mami bakalan marah nggak ya?"
"Boleh banget kok. Lo kan tau sendiri mama gue seneng sama Divana."
"Iya juga sih. Entar sore selepas Ashar, lo jemput dia ke sini ya."
"Eh? Kok gue?"
"Ya iya. Gue mau ngurus loundry dulu. Terus lo mulai kerja aja sama dia. Setelah Terawih baru gue nyusul."
"Loh? Kok gitu?"
"Nggak usah banyak nanya deh. Divana fine-fine aja tuh pas gue bilangin. Lo drama banget."
"Anj*y!"
Tawa Satya pecah mendengar kata mutiara yang keluar dari bibir Ari. Ia pun mohon diri untuk segera ke loundry. Ibu Ari belum benar-benar pulih. Masih perlu banyak istirahat kata Dokter. Jadi, Satya tetap harus stay di loundry hingga Ibu Ari sembuh benar.
***
Sepeninggal Satya, Ari kembali merebahkan tubuhnya pada kasur empuknya. Lagu yang berjudul "Pemeran Pengganti" yang dinyanyikan oleh Fiersa Besari tengah mengalun memenuhi telinganya.
Kusadar ku pemeran pengganti
Tak pernah benar-benar di hati
Biarlah biar aku bertahan
Mungkin esok rasamu sungguhan
Lagu itu seolah melukiskan posisinya saat ini. Mungkin bagi Divana, Satya adalah rumah. Tempat ternyaman untuk melepas segala penat. Sementara dirinya adalah halte yang hanya disinggahi, namun akhirnya ditinggal pergi. Semenyedihkan itu dirinya saat ini.
***
Tempat apa yang paling ingin kau sambangi?
Biarkan aku coba mengimbangi
Mungkin kita bisa sama-sama menatap pelangi
Daripada acara TV yang lebih sering memerangi
Ah, atau kau ingin bermain di bawah hujan?
Lalu kita akan saling menghangati lewat genggaman
Dan perlahan rasa itu tercipta lewat debaran
Hingga tanpa sadar kita menikmatinya dengan pejaman
Teruntuk kamu, seseorang yang masih menjelma kawan
@afrizulari
Kota Gorontalo, 25 Mei 2019

0 Response to "Hari Ke 17"
Post a Comment