Hari Ke 19
Hari Ke 19
Waktu menunjukkan pukul 4.30 sore saat Divana dan Ari tiba di rumah Ari. Nuansa putih gading segera menyapa penglihatan Divana. Rumah Ari didesain mengikuti rumah gaya Belanda kuno. Halaman rumah ditumbuhi beragam jenis bunga, mulai dari anggrek, mawar, bougenville, dan masih banyak lagi
Divana mengekor di belakang Ari yang berjalan dengan langkah lebarnya. Matanya masih sibuk berkeliaran memandangi keindahan taman bunga itu. Di beranda, duduk seorang lelaki paruh baya dengan kacamata bacanya, tengah menatap lurus pada koran di tangannya. Ia tak menyadari kehadiran Ari dan Divana yang semakin mendekat.
"Assalaamu 'alaikum."
Divana dan Ari mengucapkan salam berbarengan. Ayah Ari mengangkat wajahnya dari koran menuju dua insan yang baru saja membuyarkan konsentrasinya.
"Wa 'alaikumussalaam." Ayah Ari menatap penuh tanya perihal siapa perempuan yang berdiri di belakang Ari. Pasalnya, ini pertama kalinya Ari membawa perempuan ke rumah. Ari yang bisa membaca gelagat itu segera mengambil inisiatif untuk menjawab.
"Temen Ari, Pa. Kenalin, Divana. Mau kerja tugas kelompok bareng Ari dan Satya. Udah minta izin mama."
"Oke. Langsung ke dalam saja."
"Yuk!" kata Ari sambil melangkah lebih dulu memasuki rumah besar itu. Divana mengangguk hormat pada Ayah Ari dan segera masuk mengikuti Ari.
"Mama, Divana datang." panggil Ari dengan suara yang agak keras, merambat hingga ke segala penjuru ruangan.
Ibu Ari berlari tergopoh dari arah dapur sambil memegang pisau dan tomat. Ia tersenyum pada Divana.
"Sini, Sayang. Bantuin Mami masak dulu," kata Ibu Ari membuat Ari hendak melayangkan protes.
"Aduh, Ma. Divana ke sini kan mau kerja tugas. Masa malah disuruh masak sih." Ari menepuk jidatnya, bingung dengan arah berpikir ibunya.
"Nggak apa-apa kok. Tugasnya selepas terawih aja dikerjain. Sekalian nungguin Satya."
"Bener tuh. Atau jangan-jangan kamu pengen berduaan ya sama Divana? Nggak boleh. Puasa."
"Mama ngomong apa sih. Ya udahlah. Ari mau nge-game dulu."
Ari berbalik hendak menuju ke kamarnya. Namun, perkataan Ibunya membuatnya terpaku dan terdiam beberapa saat. Sampai akhirnya bersorak dalam hati.
"Besok pagi kakakmu datang. Mau nginap seminggu."
"Oke."
***
Menjelang buka puasa, mereka sudah berkumpul di meja makan. Ini seperti buka puasa antara menantu dan mertuanya. Ari was-was, takut Ayahnya akan mengungkit soal perasaannya pada Divana yang sempat mereka bahas di rumah sakit kala itu.
"Nak Divana sudah lama ya temanan sama Ari?" tanya Ayah Ari membuat Ari menatapnya dengan tatapan curiga. Apa yang sebenarnya hendak Ayahnya lakukan? Semesta, tolong benamkan aku ke dasar bumi, batin Ari.
"Emm ... kita udah sekelas dari semester 1, Om. Tapi akrabnya ya, baru sekarang. Saya dekatnya sama Satya dari awal."
"Oh begitu. Terus--"
"Pa, udah deh nanya-nanyain Divana. Bentar lagi buka puasa nih." Ari mulai kesal dengan tingkah Ayahnya. Pasti Ayahnya ingin memperjelas bahwa rasa yang ia simpan dalam hati, tak akan berbalas. Beruntung, Ibunya menyelamatkannya dengan mengubah arah pembicaraan.
"Satya kok belum pulang, Ri?"
"Eh? Katanya mau beresin kerjaan di loundry dulu. Selepas terawih baru pulang."
"Loh? Kerjaan di loundry kan udah selesai sore tadi."
"Eh? Nggak tau Ari, Ma. Orang Satya bilangnya gitu."
Mereka terdiam di meja makan. Semua sibuk dengan pikirannya masing-masing. Ada apa dengan Satya? Apa yang sebenarnya hendak ia lakukan sampai harus berbohong seperti ini? Pertanyaan-pertanyaan ini akan segera menemukan jawab jika saja Satya sudah berada di rumah saat ini. Namun, yang ditunggu belum tampak batang hidungnya.
***
Aku berhasil membawamu masuk dalam semestaku
Namun, kau tak berniat tinggal berlama-lama
Kau hanya ingin mencari jawab seperti apa semestaku
Padahal aku ingin kita bisa bersama-sama
Ragamu memang tengah bersandar nyaman di rumahku
Namun, dia masih saja jadi pusat segala tuju
Matamu memang sesekali melirik ke arahku
Namun, dialah sesungguhnya yang kamu rindu
Aku masih akan tetap berjuang
Hingga lelah akhirnya datang bertandang
@afrizulari
Kota Gorontalo, 25 Mei 2019
Waktu menunjukkan pukul 4.30 sore saat Divana dan Ari tiba di rumah Ari. Nuansa putih gading segera menyapa penglihatan Divana. Rumah Ari didesain mengikuti rumah gaya Belanda kuno. Halaman rumah ditumbuhi beragam jenis bunga, mulai dari anggrek, mawar, bougenville, dan masih banyak lagi
Divana mengekor di belakang Ari yang berjalan dengan langkah lebarnya. Matanya masih sibuk berkeliaran memandangi keindahan taman bunga itu. Di beranda, duduk seorang lelaki paruh baya dengan kacamata bacanya, tengah menatap lurus pada koran di tangannya. Ia tak menyadari kehadiran Ari dan Divana yang semakin mendekat.
"Assalaamu 'alaikum."
Divana dan Ari mengucapkan salam berbarengan. Ayah Ari mengangkat wajahnya dari koran menuju dua insan yang baru saja membuyarkan konsentrasinya.
"Wa 'alaikumussalaam." Ayah Ari menatap penuh tanya perihal siapa perempuan yang berdiri di belakang Ari. Pasalnya, ini pertama kalinya Ari membawa perempuan ke rumah. Ari yang bisa membaca gelagat itu segera mengambil inisiatif untuk menjawab.
"Temen Ari, Pa. Kenalin, Divana. Mau kerja tugas kelompok bareng Ari dan Satya. Udah minta izin mama."
"Oke. Langsung ke dalam saja."
"Yuk!" kata Ari sambil melangkah lebih dulu memasuki rumah besar itu. Divana mengangguk hormat pada Ayah Ari dan segera masuk mengikuti Ari.
"Mama, Divana datang." panggil Ari dengan suara yang agak keras, merambat hingga ke segala penjuru ruangan.
Ibu Ari berlari tergopoh dari arah dapur sambil memegang pisau dan tomat. Ia tersenyum pada Divana.
"Sini, Sayang. Bantuin Mami masak dulu," kata Ibu Ari membuat Ari hendak melayangkan protes.
"Aduh, Ma. Divana ke sini kan mau kerja tugas. Masa malah disuruh masak sih." Ari menepuk jidatnya, bingung dengan arah berpikir ibunya.
"Nggak apa-apa kok. Tugasnya selepas terawih aja dikerjain. Sekalian nungguin Satya."
"Bener tuh. Atau jangan-jangan kamu pengen berduaan ya sama Divana? Nggak boleh. Puasa."
"Mama ngomong apa sih. Ya udahlah. Ari mau nge-game dulu."
Ari berbalik hendak menuju ke kamarnya. Namun, perkataan Ibunya membuatnya terpaku dan terdiam beberapa saat. Sampai akhirnya bersorak dalam hati.
"Besok pagi kakakmu datang. Mau nginap seminggu."
"Oke."
***
Menjelang buka puasa, mereka sudah berkumpul di meja makan. Ini seperti buka puasa antara menantu dan mertuanya. Ari was-was, takut Ayahnya akan mengungkit soal perasaannya pada Divana yang sempat mereka bahas di rumah sakit kala itu.
"Nak Divana sudah lama ya temanan sama Ari?" tanya Ayah Ari membuat Ari menatapnya dengan tatapan curiga. Apa yang sebenarnya hendak Ayahnya lakukan? Semesta, tolong benamkan aku ke dasar bumi, batin Ari.
"Emm ... kita udah sekelas dari semester 1, Om. Tapi akrabnya ya, baru sekarang. Saya dekatnya sama Satya dari awal."
"Oh begitu. Terus--"
"Pa, udah deh nanya-nanyain Divana. Bentar lagi buka puasa nih." Ari mulai kesal dengan tingkah Ayahnya. Pasti Ayahnya ingin memperjelas bahwa rasa yang ia simpan dalam hati, tak akan berbalas. Beruntung, Ibunya menyelamatkannya dengan mengubah arah pembicaraan.
"Satya kok belum pulang, Ri?"
"Eh? Katanya mau beresin kerjaan di loundry dulu. Selepas terawih baru pulang."
"Loh? Kerjaan di loundry kan udah selesai sore tadi."
"Eh? Nggak tau Ari, Ma. Orang Satya bilangnya gitu."
Mereka terdiam di meja makan. Semua sibuk dengan pikirannya masing-masing. Ada apa dengan Satya? Apa yang sebenarnya hendak ia lakukan sampai harus berbohong seperti ini? Pertanyaan-pertanyaan ini akan segera menemukan jawab jika saja Satya sudah berada di rumah saat ini. Namun, yang ditunggu belum tampak batang hidungnya.
***
Aku berhasil membawamu masuk dalam semestaku
Namun, kau tak berniat tinggal berlama-lama
Kau hanya ingin mencari jawab seperti apa semestaku
Padahal aku ingin kita bisa bersama-sama
Ragamu memang tengah bersandar nyaman di rumahku
Namun, dia masih saja jadi pusat segala tuju
Matamu memang sesekali melirik ke arahku
Namun, dialah sesungguhnya yang kamu rindu
Aku masih akan tetap berjuang
Hingga lelah akhirnya datang bertandang
@afrizulari
Kota Gorontalo, 25 Mei 2019

0 Response to "Hari Ke 19"
Post a Comment