Hari Ke 18

Hari Ke 18

Sore itu selepas Ashar, Ari sudah rapi dengan kemeja hitam yang lengannya di gulung hingga siku, senada dengan celana jeans yang dikenakannya. Ia telah duduk manis di jok motornya, bersiap memakai helm. Tiba-tiba ibunya memanggil.

"Mau ke mana, Ri?" tanya Ibunya yang bersiap untuk menyiram bunga. Saat ia di rumah sakit, Satya dan Ari bergantian untuk merawat tanaman ibunya.
"Eh iya, Ari lupa minta izin. Ari, Satya, sama Divana mau kerja kelompok di sini, Ma. Boleh kan?"
"Ya boleh dong, Nak. Mama juga udah rindu sama calon mantu Mama."
Ari terkejut mendengar perkataan Ibunya. Otaknya sampai mencerna berkali-kali pernyataan itu.
"Mantu?" tanya Ari setelah tersadar dari keterkejutannya.
"Iya dong. Kan calonnya anak Mama."
"Kata siapa? Ari sama dia temenan aja kok."
"Emang siapa yang bilang kalau nikahnya sama Ari?"
"Kan Ari anak Mama."
"Satya juga anak Mama lho ya."

Ari hanya menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Bingung harus merespon bagaimana lagi perkataan ibunya. Karena tak ingin membuang waktu, Ari pun pamit pada ibunya. Lalu mulai melaju menuju jalanan kota yang mulai padat.
***

Ari tiba di kosan Divana tepat pukul 4 sore. Setelah menyapa ibu kos, Ari di perbolehkan menemani Divana di kamarnya. Kebetulan, kamar Divana sedang terbuka lebar. Ari melongok ke dalam ruangan kecil itu. Tak ada siapa pun. Ia pun memberanikan diri untuk masuk dan memanggil nama Divana.
Divana yang baru keluar dari kamar mandi, terkejut melihat Ari yang sudah berdiri di dalam kamarnya.

"Heh, ngapain lo? Keluar keluar! Duduk di depan pintu aja lo!" usir Divana sengit.
"Galak amat sama tamu."
"Tamu nggak diundang."
"Oh gitu? Gue balik nih."
"Ih, dasar baperan. Udah, duduk aja depan pintu!"

Ari pun menurut. Entah kenapa ia bahagia. Meski saat bersamanya, Divana selalu marah-marah, galak, dan sedikit menyebalkan, ia menyukai semua itu. Setidaknya hal itu tak Satya dapatkan. Satya hanya melihat sisi manja Divana, rapuh, dan baiknya. Baginya, ini merupakan modal awal yang bisa ia gunakan untuk bersaing secara sehat dengan Satya.
***





Di lain tempat, tepatnya di loundry milik ibu Ari, Satya tengah melamun. Sebenarnya pekerjaannya telah selesai sebelum adzan Ashar berkumandang. Namun, ia memilih tetap tinggal di sana, hanya untuk memberi Ari dan Divana waktu berdua.

Sejak ia tahu bahwa Ari juga menyimpan rasa suka pada Divana, perempuan yang dikaguminya sejak SMP, ia telah berusaha untuk mengubur rasa itu dalam-dalam. Ia dan Divana memang berbeda sekolah. Namun, mereka sering dipertemukan pada beberapa lomba. Divana tak mengenalnya kala itu. Hanya ia seorang yang telah melabuhkan hatinya sejak melihat Divana sebagai peserta paling bersinar saat lomba berlangsung.

Namun, demi balas budi untuk keluarga Ari, ia bahkan rela kehilangan cinta yang telah ia jaga seapik mungkin sejak dulu. Rupanya, ia harus memutar haluan dan kembali berlayar hingga akhirnya menemukan kembali dermaga yang tepat untuk berlabuh. Divana bukan lagi menjadi tujuannya. Ia harus merelakan dermaga itu menjadi pemberhentian terakhir dari seseorang yang telah sangat berbaik hati menampungnya. Menjadikannya bagian dari keluarga.
Sungguh, bahkan merelakan Divana pun belum mampu membayar semua jasa keluarga jelmaan malaikat itu.
***

Lelaki itu memilih terluka
Demi keutuhan hati lelaki lain
Memilih bungkamkan rasa
Demi tersuarakan rahasia hati lelaki lain
Memilih memutar arah
Demi dermaganya dituju perahu lelaki lain
Memilih tiada
Demi ada untuk lelaki lain
@pras.1998

Kota Gorontalo, 25 Mei 2019

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Hari Ke 18"

Post a Comment