Hari Ke 9

Hari Ke 9

Siang itu ruang kelas sedang ricuh. Pendidikan Matematika B sibuk menyelesaikan tugas Analisis Real 1 yang akan dikumpulkan dalam 30 menit ke depan. Yang perempuan mengikuti jawaban Divana yang sistematis, sementara yang laki-laki mengikuti jawaban Ari yang amburadul, tetapi hasil akhirnya tetap sama dengan Divana.

Tiba-tiba seorang mahasiswi tingkat dua datang ke kelas mereka. Beberapa hanya menatap sekilas kemudian lanjut menulis, acuh pada gadis berambut sebahu dengan kacamata berlensa tebal menghiasi wajahnya.

"Permisi. Kak Divana sama Kak Ari diundang bu Yunita ke ruangannya sekarang," kata gadis itu takut-takut.
"Oh oke. Thanks ya," kata Divana dengan seulas senyum.

Gadis itu hanya mengangguk kemudian undur diri dari hadapan para seniornya. Divana kemudian menatap Ari yang juga sedang menatapnya. Kemudian sama-sama berdiri dan menuju ke ruangan dosen Penasehat Akademik mereka tanpa sepatah katapun.


Mereka menebak maksud bu Yunita memanggil mereka adalah untuk membahas pelaksanaan PPL 1. Perkuliahan sebentar lagi berakhir, dan mereka belum pernah sekalipun mengadakan pertemuan. Bu Yunita yang sibuk karena mengajar di dua kampus berbeda, sulit meluangkan waktu. Baru sekarang mereka akhirnya bisa bertemu.

"Kita buat tiga kali pertemuan saja ya. Dua kali bimbingan, dan yang ketiga ujian. Saya percaya kalian anak-anak yang cepat tanggap," kata Bu Yunita setelah Ari dan Divana masuk ke ruangannya.
"Baik, Bu," jawab mereka serempak.
"Kita mulai pekan depan. Mulai Selasa, Kamis, dan Sabtu. Selepas terawih di rumah saya. Bisa?"
"Bisa, Bu."
"Pakaian atasan putih dan bawahan hitam."
"Iya, Bu."
"Baik. Sudah jelas, kan? Silakan keluar."
Mereka pun bergegas keluar dengan menyelam pada pikiran masing-masing. Sampai akhirnya, pertanyaan yang sama terlontar dari mulut keduanya.
"Lo tau rumah ibu?"
Mereka saling melempar pandang ke arah lain sambil berusaha menahan tawa. Kenapa juga pertanyaan mereka bisa sama dan terlontar dalam waktu yang bersamaan.
"Gue tau," kata Divana kemudian.
"Oh, baguslah. Nanti kita barengan aja ke rumah ibu."
"Oke."
***

Hari yang dinanti pun tiba. Divana tengah mematut diri di depan cermin saat tiba-tiba terdengar suara klakson di depan kosnya. Ia sudah menduga itu pasti Ari. Ia tak peduli dan terus memoles wajahnya dengan bedak bayi.

Suara klakson masih terdengar dari luar sana. Divana bergegas keluar karena tak ingin dimarahi oleh tuan kosnya. Saat pintu kamarnya dibuka, tampak olehnya ibu kos yang sedang berkacak pinggang.
"Pacarmu dari tadi klakson. Berisik. Cepat keluar!" katanya lalu hendak berbalik.
Divana yang tak terima dikatai sebagai pacar Ari, berusaha meluruskan kesalahpahaman yang ada.
"Kami hanya teman, Bu," bela Divana.
"Teman apaan yang tiap hari nganterin makanan?"
Setelah mengatakan itu, ibu kosnya yang bertubuh gempal itu melangkah pergi. Divana hanya mengendikkan bahu tak peduli. Bodo amatlah, batinnya.
"Lama banget lo," kata Ari saat melihat Divana mendekat.
"Maklum lah, cewe."
"Jangan bilang lo lama dandan buat memikat hati gue? Sorry ya, nggak mempan."
"Idih, kepedean banget lo. Pengen muntah gue."
"Udah ah, ayo naik!"

Divana bergegas naik setelah memasang helm yang diberikan Ari. Ada kecanggungan yang melingkupi. Pasalnya, ini pertama kalinya mereka bisa sedekat ini setelah sekian lama hanya saling mencipta perdebatan. Divana berusaha menjaga jarak agar tak bersentuhan dengan punggung Ari. Entah kenapa, rasanya berbeda.

"Dari sini, belok kiri, kanan, apa terus nih?" tanya Ari saat mendekati persimpangan.
"Lurus aja. Nanti ketemu pertigaan, baru belok kanan. Rumahnya yang cat abu-abu."
"Yang depannya perpustakaan daerah bukan?"
"Mmm."
"Yee, kenapa nggak bilang dari tadi? Kalau itu mah gue tau."
"Orang lo nggak nanya kok."
"Tadi kan gue nanya."
"Lo cuma nanya gue tau rumah ibu apa enggak. Lo nggak nanya di mana ya, kalau lo lupa."
"Iya deh. Gue aja yang salah."
"Ya emang."

Divana meninju bahu Ari. Hal yang beberapa detik kemudian ia sesali. Ia mengutuk tangan jahilnya yang centil membuat kontak fisik dengan Ari. Ari yang mendapat perlakuan itu hanya tertawa. Sungguh, hal yang langka. Ari tertawa? Oh, sebenarnya apa yang sedang direncanakan semesta?
***

Kamu adalah yang terjauh dari semestaku
Tak pernah bersinggungan, beredar pada poros yang berbeda
Tak ada praduga bahwa kamu akan menyambangi semestaku
Kuucapkan "selamat datang", hanya untuk malam ini saja
@zakirahdivana

Kota Gorontalo, 14 Mei 2019

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Hari Ke 9"

Post a Comment